Jokowi Jadi Capres

Joko Widodo atau Jokowi akhirnya ditetapkan oleh PDI-P sebagai calon Presiden  pada Jumat (14/3). Sepertinya memang tidak ada pilihan selain mencalonkan Jokowi jika PDI-P ingin merebut kekuasaan, setelah selama satu dekade ini tidak menempatkan satu wakil pun di tubuh pemerintahan pusat. Jokowi, jika berhasil memenangi Pilpres 2014, bisa menjadi tiket bgi PDI-P untuk menjadi partai penguasa.

jokowi
Jokowi (kanan)

Penetapan Jokowi sebagai capres mendapat sambutan cukup luas. Teman-teman saya di Facebook menyampaikan dukungan mereka terhadap Gubernur DKI Jakarta tersebut. Ada beberapa dari mereka yang menyebut  tidak akan lagi golput, setelah sekian lama tidak peduli dan tidak mau datang ke tempat pemungutan suara.

Sebagian dari teman-teman saya juga mengganti profil picture di Facebook dengan ikon pendukung Jokowi. Bahkan, lewat statusnya di Facebook, ada seorang teman yang dengan militannya membela Jokowi,  menantang siapapun untuk menyebutkan jago mereka serta mengadunya dengan Jokowi. Intinya, wabah Jokowi merebak di mana-mana. Pria yang pernah menjadi Wali Kota Solo ini semacam kebanjiran pujian.

Sejak setahun terakhir, Jokowi memang sangat popuelar dan memiliki tingkat keterpilihan (elektabilitas) yang tinggi, jauh melampaui tokoh-tokoh lain, seperti Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie.

Kegairahan kepada Jokowi sejak setahun silam menimbulkan segudang pertanyaan di dalam diri saya. Apa yang dapat membuat seseorang dapat diterima begitu luas? Kata-katanya? Bahasa tubuhnya? Aksinya? Gayanya? Kebijakannya?

Bagaimana orang bisa menilai atau mungkin merasakan bahwa tokoh yang satu jujur, sedangkan tokoh yang lain kurang jujur? Apakah kejujuran dan pribadi seseorang dapat terpancar secara nyata di mata orang banyak? Bagaimana kalau ada orang yang mungkin lebih jujur, lebih baik, lebih perhatian, tetapi semua kualitas itu tidak terpancar di hadapan publik?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mugkin tidak relevan di tengah kegairahan terhadap Jokowi.  Pokoknya, bagi banyak orang, sekarang adalah tahun politik, bahkan masa kampanye legislatif sudah dimulai. Tidak perlu mengajukan pertanyaan yang jawabannya susah karena dinamika keseharian politik juga sudah memusingkan, apalagi bagi para caleg yang sedang berjuang mati-matian mendapatkan suara pemilih.

Advertisements