Makan Malam Kusnadinov

Makan malam selama ini saya pahami sebagai aktivitas yang ada begitu saja sejak dulu. Dalam situasi masyarakat seperti apa pun, di mana pun, makan malam selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Sulit bagi saya membayangkan bahwa pernah ada kelompok masyarakat yang tidak kenal atau asing dengan konsep makan malam. Pandangan saya mengenai makan malam itu berubah drastis gara-gara cerita seorang teman.

makan malam
Saya, Grace, dan anak pertama kami, Lintang, sedang makan malam di Restoran Bandar Djakarta, di Ancol, Jakarta, pada tahun 2009. Waktu itu, Lintang baru berusia 4 tahun.

Di kantor, saya memiliki teman yang bernama Kusnadi. Ia orang Betawi asli, mungkin seperti tokoh Doel yang diperankan Rano Karno dalam sinetron  Si Doel Anak Sekolahan. Kusnadi lahir di Tomang pada tahun 1972 dan tumbuh besar di Pondok Aren, Tangerang (sekarang jadi Tangerang Selatan). Biar kedengaran agak keren, Kus, demikian ia biasa dipanggil, suka menambahkan namanya menjadi Kusnadinov. Mungkin maksudnya supaya ia kelihatan seperti orang Betawi blasteran Rusia atau Ceko.

Pada suatu hari di bulan Desember 2009, entah apa sebabnya, ia bercerita bahwa waktu masih kecil dirinya sangat asing dengan konsep makan malam. ”Nggak ada itu istilah makan malam. Makan terakhir jam empat sore. Setelah itu, ngaji, belajar, dan tidur. Ada makan malam paling kalau sedang ada tahlilan,” kata Kus.

Kehidupan tanpa makan malam mulai berubah pada tahun 1989, bertepatan dengan kehadiran pertama kali stasiun televisi swasta di Indonesia, RCTI. “Nah, waktu itu mulai ada tuh istilah makan malam. Saya masih SMA waktu itu,” kenang Kus.

Meski tidak semua rumah tangga memiliki televisi, toh, menurut Kus, setelah ada RCTI, waktu tidur menjadi lebih malam. Kehidupan orang-orang di lingkungan sekitar Kus pelan-pelan ikut berubah.  Konsep makan malam mulai muncul. Lama-kelamaan Kus dan orang-orang di lingkungan sekitarnya  tidak bisa lepas dari apa yang namanya makan malam, sampai sekarang.

Kus lantas melanjutkan ceritanya. Meski tidak berkaitan lagi dengan urusan makan malam, cerita yang disampaikan Kus masih tetap berhubungan dengan perubahan di lingkungan sekitar tempat dia tinggal.

Kus menceritakan bagaimana Bintaro Plaza dan Kompleks Bintaro  Sektor 4 dahulu adalah hamparan sawah luas. “Ke mana-mana orang masih jalan kaki. Sekarang,  pergi ke tempat yang dekat aja, orang penginnya naik motor,” katanya sambil tertawa.

Saya juga ikut tertawa, membayangkan bagaimana restoran Pizza Hut di Bintaro Plaza dahulu adalah sawah becek. Restoran tempat saya dan keluarga pernah makan malam dengan menyantap pizza itu dahulu gelap gulita saat malam hari. Tidak ada lampu, tidak ada pelayan manis bertubuh ramping berjalan ke sana ke mari membawa daftar menu. Paling-paling hanya ada suara kodok dan jangkrik yang mengantar Kus cilik dan tetangganya terlelap tidur, tanpa makan malam terlebih dahulu.

Advertisements

Pak Herman Ingin Jadi Dokter

Anak saya yang pertama, Lintang (9), mendapat tugas mewawancarai orang dengan pekerjaan yang menghasilkan jasa. Ini merupakan tugas mata pelajaran IPS kelas 3 dari sekolahnya, SDK BPK Penabur Bintaro. Saya melarang dia untuk mewawancarai bapaknya yang bekerja sebagai jurnalis atau ibunya yang bekerja sebagai karyawan. Lintang harus bertemu dan mewawancarai orang yang bukan keluarganya.

Seperti biasanya ketika melaksanakan tugas dari sekolah, Lintang kali ini juga sangat bersemangat mempersiapkan tugas wawancara. Ia tidak henti-hentinya mengingatkan  saya untuk menyiapkan kamera yang akan dipakainya. Lintang juga terus meminta saran saya tentang siapa yang seharusnya diwawancarai.

Semula Lintang ingin mewawancarai petugas satpam di kompleks tempat kami tinggal. Namun, pada jadwal seharusnya bertugas, si petugas satpam tidak muncul. Padahal, Lintang ingin pada saat itu juga wawancara dilakukan sehingga tulisan ringkas hasil wawancara dapat segera dikerjakan dan dikumpulkan pada  beberapa hari kemudian.

Lintang akhirnya memutuskan untuk mewawancarai Herman, tukang ojek di dekat rumah kami. Mbak Yanti, suster yang bertugas menemani kedua anak kami selama saya dan isteri bekerja, mendampingi Lintang dan memotret proses wawancara tersebut. Foto proses wawancara memang harus disertakan bersama tulisan hasil wawancara. Saya sendiri memilih tidak menemani Lintang melakukan wawancara karena ingin ia betul-betul mandiri ketika mengerjakan tugas.

IMG_5580                                         IMG_5587

Sebagai panduan wawancara, gurunya memberikan Lintang poin-poin pertanyaan yang harus diajukan kepada narasumber. Poin-poin pertanyaan ini cukup membantu Lintang dalam menjalani pengalaman pertamanya mewawancarai orang.

Setelah wawancara selesai, Lintang pulang dan menceritakan hasil wawancara tersebut kepada saya. Ia lantas bersedia menjalankan saran saya agar langsung menuliskan sebagian hasil wawancara.  Sisanya dilanjutkan pada keesokan harinya. Saran itu dilandasi pengalaman saya bahwa menunda beberapa hari menuliskan hasil sebuah wawancara akan menyulitkan kita ketika nanti akan mulai menulis.

Lintang mencicil menulis satu paragraf dari empat paragraf yang diwajibkan gurunya. Tiga paragraf sisanya dilanjutkan pada keesokan harinya. Ia tidak mungkin merampungkan empat paragraf sekaligus pada saat itu karena ada beban mendesak yang harus diselesaikan, yakni mempersiapkan diri menghadapi ulangan Agama. Sesuai dengan rencana, tulisan ringkas hasil wawancara bisa diselesaikan oleh Lintang pada keesokan harinya.

Saya membaca hasil tulisan Lintang. Paragraf terakhir atau keempat menyita perhatian. Lintang menuliskan pendapat dia  mengenai kemungkinan penyebab Pak Herman tidak dapat menggapai cita-citanya sebagai dokter dan akhirnya harus menerima kenyataan bekerja sebagai tukang ojek. Bagian paragraf keempat ini cukup membuat saya terenyuh.

Berikut tulisan hasil wawancara:

Tukang Ojek

Salah satu pekerjaan penghasil jasa adalah tukang ojek. Tukang ojek yang saya wawancarai ini bernama Pak Herman. Setiap hari Pak Herman mengantar penumpang yang biasanya perki ke sekitar wilayah kompleks larangan. Untuk mengantar penumpang Pak Herman menggunakan motor. Untuk pekerjaan ini Pak Herman harus bisa mengendari motor.

Selama menjalankan pekerjaannya, Pak Herman tidak dibantu oleh siapapun. Pak Herman dapat mengurus pekerjaannya sendiri. Saat bekerja Pak Herman juga tidak memakai baju seragam. Pak Herman tidak menggunakan baju seragam karena baju seragam untuk tukang ojek tidak disediakan. Jadinya selama bekerja Pak Herman memakai baju bebas.

Pak Herman menjalani pekerjaannya selama 15 tahun. Selama bekerja, Pak Herman bekerja dengan rajin dan dengan senang hati. Yang membuat Pak Herman betah dengan pekerjaannya adalah karena dapat mempunyai banyak teman. Manfaat dari mempunyai banyak teman adalah dapat menghibur kita saat kita sedang lelah.

Sewaktu Pak Herman kecil Pak Herman mempunyai cita-cita menjadi dokter. Tapi cita-cita Pak Herman tidak terwujud. Mungkin karena Orang Tua Pak Herman tidak dapat membayar uang sekolah lagi. Walaupun cita-cita Pak Herman tidak tercapai Pak Herman tetap melaksanakan pekerjaaannya sekarang dengan penuh semangat.

Tugas Lintang 2          tugas lintang 3