Mengapa Orang Eropa Bisa Menjelajah ke Amerika?

Seorang politisi Papua Nugini bernama Yali bertanya kepada ahli biologi evolusi dan antropolog asal Amerika Serikat Jared Diamond, “Kenapa kalian orang kulit putih membuat begitu banyak barang berharga dan membawanya ke Papua, tapi kami orang kulit hitam memiliki begitu sedikit barang berharga sendiri?” Pertanyaan ini lantas menjadi alasan utama bagi Diamond pada 25 tahun kemudian  untuk menulis salah satu bukunya yang terkenal: Guns, Germs & Steel (Bedil, Kuman & Baja). Terbit pertama kali dalam bahasa Inggris pada tahun 1997, buku ini mendapat hadiah Pulitzer untuk kategori non-fiksi setahun kemudian. Kepustakaan Populer Gramedia lantas menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2013 .

20140215_101927_resized

Gagasan utama Diamond adalah, pada suatu waktu yang bersamaan,  mengapa ada kelompok bangsa yang maju dan ada yang tertinggal? Kongkretnya, pada tahun 1500-an, ketika bangsa Eropa melakukan perjalanan jauh dengan memakai kapal besar, mengapa ada bangsa-bangsa seperti Melanesia, Aborigin, dan Indian yang bahkan belum memasuki kebudayaan logam. Akibatnya, sejarah mencatat bukan bangsa Melanesia yang menjelajah laut dan mendatangi Eropa, melainkan bangsa Eropa yang menembus badai dan berlabuh di pantai Australia.

Kesimpulan utama Diamond, masyarakat di setiap benua berkembang dengan kecepatan yang berbeda satu sama lain akibat perbedaan kondisi lingkungan. Ia menolak anggapan bahwa suatu bangsa memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi ketimbang bangsa lain sehingga menyebabkan ada bangsa yang lebih maju dan ada yang lebih terbelakang.

Landing of Columbus, pelukis John Vanderlyn
Landing of Columbus, pelukis John Vanderlyn

Sebuah kelompok masyarakat bisa berkembang pesat dari sisi teknologi, misalnya, karena terlebih dahulu menetap (tidak hidup berburu dan meramu) dalam jangka waktu lama serta berpopulasi padat. Masyarakat yang tidak menetap dan hidup terpisah-pisah dalam kelompok kecil untuk memudahkan perburuan akan sulit meloncat memasuki tingkat teknologi/kebudayaan yang lebih maju.

Pertanyaannya kemudian, mengapa bangsa Melanesia di Papua Nugini atau suku-suku bangsa Indian di Amerika tidak membentuk masyarakat menetap yang padat? Sebaliknya, mengapa justru masyarakat di sekitar Irak sekarang dan Eropa mampu membentuk masyarakat menetap pada ribuan tahun silam, lengkap dengan spesialisasi pekerjaan seperti petani, pembuat pedang (pandai besi), hingga kelompok ahli agama?

Penyebabnya ternyata adalah kondisi lingkungan di Australia, Papua, dan Amerika tidak memungkinkan bagi hidupnya spesies tumbuhan pangan serta hewan mamalia besar yang sangat dibutuhkan untuk menjamin pasokan nutrisi bagi masyarakat menetap berpopulasi besar. Spesies liar yang menjadi nenek moyang tanaman pangan pokok,  seperti padi dan gandum, serta hewan ternak besar , seperti sapi dan domba, ternyata dulu tidak terdistribusi secara merata akibat kondisi alam lingkungan. Amerika, Papua, dan Australia kekurangan spesies-spesien penting itu, sedangkan dataran Eurasia yang membentang dari Eropa hingga China justru kelebihan spesies tanaman dan hewan yang dibutuhkan untuk menopang masyarakat menetap berpopulasi padat.Keunggulan masyarakat menetap berpopulasi padat tak hanya berupa kecepatan mereka memajukan kebudayaan sebagai akibat adanya kesinambungan pasokan makanan serta spesialisasi pekerjaan, melainkan juga berupa kemampuan mereka membuat logam dan akhirnya menghasilkan senjata yang mematikan. Keunggulan ini mendorong mereka lebih unggul secara militer ketimbang kelompok masyarakat yang masih hidup nomaden.

Seorang anggota suku Indian Mandan, di dataran Amerika (foto oleh Edward Curtis, 1908).
Seorang anggota suku Indian Mandan, di dataran Amerika (foto oleh Edward Curtis, 1908).

Ada bentuk keunggulan lain yang sebenarnya lebih merupakan efek samping, yakni masyarakat menetap berpopulasi padat ternyata membawa bibit  penyakit yang lebih ganas ketimbang masyarakat berburu. Mengapa bisa demikian? Penyebabnya, masyarakat menetap berpopulasi padat hidup berdampingan dengan hewan ternak sehingga memicu kuman yang semula hidup di ternak beralih menyerang manusia.

Seleksi alam di tengah kondisi masyarakat berpopulasi padat dengan populasi hewan ternak yang tak kalah padat memunculkan jenis-jenis kuman baru. Bagi masyarakat berpopulasi padat, kuman-kuman itu tidak mematikan karena manusia yang menjadi anggota masyarakatnya telah mengembangkan sistem pertahanan tubuh yang sesuai.

Cerita berbeda dialami oleh manusia anggota kelompok masyarakat asli di Amerika, Australia, dan Papua. Mereka belum mengembangkan sistem pertahanan tubuh yang memadai untuk menghadapi serbuan kuman “canggih” yang dibawa orang Eropa. Akibatnya, jutaan warga Indian pun tewas akibat mengidap penyakit yang disebabkan kuman berbahaya dari dataran Eropa. Populasi warga asli yang berkurang drastis kian melemahkan masyarakat setempat.

Perbedaan lingkungan alam disimpulkan menjadi faktor utama yang membuat perjalanan sejarah manusia dan wajah peradaban dunia seperti sekarang ini: bukan bahasa suku Apache Indian yang dipakai luas di seluruh dunia, melainkan bahasa Inggris yang berasal dari Eropa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s